Transformasi Perguruan Tinggi dalam Era Digital - STIH UMEL MANDIRI

Transformasi Perguruan Tinggi dalam Era Digital

Thanks For Share

Era digital yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya, terlebih dengan adanya pandemi Covid-19, mengharuskan semua institusi termasuk pendidikan tinggi STIH Umel mandiri untuk mempersiapkan diri dan berinovasi agar semakin kompetitif melalui transformasi digital. Transformasi adalah proses perubahan terstruktur yang direncanakan untuk mencapai tujuan mulia. Transformasi digital di perguruan tinggi mengacu pada proses dan strategi menggunakan teknologi digital untuk secara cepat mengubah cara institusi beroperasi dan melayani mahasiswa, dosen, pegawai, industri, orangtua, dan pemerintah.

Pandemi Covid-19 telah mengakselerasi transformasi dunia pendidikan dari pertemuan tatap muka menjadi pembelajaran online (daring). Berdasarkan survei BPS pada Juli 2020, 73 dari setiap 100 institusi pendidikan telah mengubah cara mereka beroperasi, menyesuaikan dengan pandemi. Hal ini menjadi tantangan, mengingat belum adanya standar tertentu dalam optimalisasi proses belajar-mengajar secara daring.

“Proses belajar mengajar yang beralih menjadi daring tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam Policy Brief: Education during Covid-19 and Beyond yang dipublikasikan oleh PBB menyebutkan, fenomena belajar dari rumah terjadi di lebih dari 190 negara di dunia. Dampaknya dirasakan oleh 1,6 miliar pelajar, 94% dari populasi pelajar di dunia,” ungkap Prof. Akhmaloka, Ph.D, Rektor Universitas Pertamina dalam sambutannya secara daring pada kegiatan UPbringing Live Session, Kamis (12/11/2020).

Generasi muda dan pendidikan Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1996 dan 2010. Sementara Meagan Johnson, seorang pakar generasi (Generational Expert), menyebutkan bahwa generasi Z adalah orang yang lahir setelah tahun 2002. Di Indonesia, generasi Z diperkirakan populasinya mencapai seperempat penduduk Indonesia. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kemajuan teknologi internet dan gawai. Generasi Z cenderung senang dengan teknologi dan fasih dengan augmented reality dan virtual reality (AR/VR) dan senang berselancar di dunia maya serta eksis di sosial media terkini.

Forbes melaporkan bahwa lulusan SMA telah menurun untuk hampir tiap negara tiap tahun dan tidak akan meningkat hingga 2024 sehinga terobosan universitas yang harus dilakukan adalah transformasi digital. Namun, berdasarkan data dari portal Kemendikbud terkait statistik jumlah lulusan SMA dan SMK negeri/swasta di Indonesia, pada 2018/2019 terdapat sekitar 2.997.421 juta lulusan dengan daya tampung universitas 1,8 juta. Minimnya daya tampung dan besarnya lulusan tersebut dapat dilihat sebagai peluang besar bagi perguruan tinggi untuk berinovasi mengusulkan model kuliah yang memudahkan bagi lulusan yang belum mampu kuliah.

Tentu fleksibilitas dan kecepatan Kemendikbud merespons melihat kondisi ini sangat dibutuhkan. Partisipasi universitas juga semakin diharapkan di masa akan datang, misalnya universitas ke depan juga harus semakin aktif mengadakan pelatihan kompetensi serta membuat program pendidikan untuk pekerja dewasa dengan sistem daring. Semakin banyak anak muda yang ingin bersama keluarga atau menikmati waktu luang di luar rumah lebih banyak dibandingkan dengan di kampus.

Jadi, secara umum, transformasi digital di perguruan tinggi adalah untuk menghasilkan layanan terbaik dan mudah bagi mahasiswa serta mitra kerja. Transformasi digital harus segera dilakukan karena teknologi semakin memanjakan mahasiswa dengan student experience yang mudah digunakan serta serba cepat. Menurut Peter Bendor-Samuel, salah satu kontributor Forbes yang fokus membahas transformasi bisnis, banyak perusahaan yang tidak mempertimbangkan nilai daya saing saat melakukan transformasi digital. Akibatnya, transformasi digital yang seharusnya bisa menambah nilai daya saing bisnis justru menjadi beban anggaran bagi perusahaan.

Hal inilah yang harus diperhatikan perguruan tinggi. Budaya kerja/kultur, digital leadership, dan prosedur yang lebih ramping harus dipersiapkan guna lancarnya proses transformasi digital. Digital leader harus menyadari bahwa digital tidak selalu tentang data dan teknologi, tetapi juga harus mampu mengubah cara bekerja, kultur, dan menciptakan sistem yang agile. Selain itu, digital leader harus mampu mengembangkan keterampilan digital di seluruh organisasi.

Sejak awal, calon mahasiswa akan masuk kampus, informasi penting dari pengolahan mahadata juga harus selalu mendampingi mereka agar meningkatkan kesuksesan dalam kuliah hingga lulus mencari kerja atau menciptakan pekerjaan baru. Marketing automation adalah teknologi yang mengelola proses pemasaran dan promosi di berbagai channel secara otomatis. SDM di perguruan tinggi harus disiapkan untuk mampu mengubah gaya bekerja, misalnya penggunaan OneDrive, Google Drive, Dropbox, dan Quip hanyalah sedikit contoh penyedia layanan cloud gratis yang bisa digunakan.

Rancangan kurikulum Transformasi digital harus segera dipersiapkan perguruan tinggi, dengan ujungnya adalah sukses survive dari kompetisi yang ketat atau terlambat. Strategi transformasi digital dimulai dari mempersiapkan SDM dan kultur yang baik, lalu persiapan data dan teknologi untuk bertransformasi. Transformasi digital harus segera disiapkan perguruan tinggi, dengan ujungnya adalah sukses survive dari kompetisi yang ketat atau terlambat. Transformasi digital membutuhkan pemimpin yang dapat membentuk karakter dan kultur bekerja yang baik, kreatif, inovatif, serta kompetitif dengan dukungan teknologi yang sesuai.

Kembali ke Atas